Berita

Jumat, 22 Mei 2009 - 08:04:44 WIB
Mengatasi Isu Virus H1N1 Dengan Pendeteksian Dini Pada Babi
Diposting oleh : Tim Website Kategori: Umum - Dibaca: 2008 kali

Kalimantan Timur merupakan wilayah penyangga yang memiliki peluang besar untuk eksportasi produk ternaknya ke Malaysia Timur dan Brunei Darussalam. Potensi eksportasi juga bisa dilakukan ke Filipina. Karena itu pengembangan komoditi peternakan di kawasan ini terutama di Kalimantan Timur bagian Utara menjadi harapan ke depan. Untuk memenuhi bibit ternak sebagian memang masih bergantung pada Sulawesi, tingginya kebutuhan masyarakat Kalimantan Timur dan tingginya pendapatan per kapita serta relatif baiknya harga komoditi peternakan, maka beberapa komoditas peternakan dari lain propinsi memang tidak dapat dipungkiri mengalir ke propinsi ini. Namun demikian, masyarakat di propinsi ini juga secara rutin mampu “eksportasi” ternaknya ke wilayah Malaysia. Kerbau lokal di daerah terpencil di perbatasan Malaysia Timur yang hanya dapat dijangkau dengan pesawat tidak dari 10 orang, yang bernama Krayan, mampu “diekspor” ke Malaysia karena harganya yang menjanjikan mencapai 7 juta rupiah tatkala bensin di Indonesia masih berharga 700 rupiah. “Ekspor” tradisonal demikian dilakukan karena akses ke pasar hanya ada di Malaysia dengan berjalan kaki 1 jam melintas batas. Kalimantan Timur memiliki juga komoditi ternak babi, populasinya relative tidak banyak, hanya 1% dari populasi babi di Indonesia atau 71.753 ekor, dengan populasi babi terbanyak ada di Kabupaten Kutai Barat dan Nunukan. Ternak babi di Nunukan potensial untuk dikembangkan seperti di Kalimantan Barat dalam mendukung eksportasi ke Malaysia. Walaupun ternak babi di Kalimantan Timur belum terbukti terinfeksi H1N1, isu virus H1N1 pada Babi yang merebak di media disikapi dengan arif oleh pemerintah Propinsi Kalimantan Timur. Posko Flu Babi dibentuk dan dibuka siaga di Dinas Peternakan Kalimantan Timur. Propinsi ini barangkali merupakan propinsi pertama di Indonesia yang memiliki Komda Zoonosis, yang anggotanya terdiri dari berapa instansi. Khusus menanggapi isu virus H1N1 pada Babi, Dinas Peternakan Propinsi Kalimantan Timur telah melakukan langkah koordinatif dengan berbagai instansi terkait. Apresiasi telah diadakan tanggal 14 Mei 2009 bertempat di Ruang Pertemuan Dinas Peternakan, yang dihadiri dan dibuka oleh Asisten III Gubernur Kalimantan Timur, dengan narasumber C.A. Nidom dan BPPV Regional V Banjarbaru. Acara dihadiri oleh berbagai kalangan, Karantina Pertanian, Karantina Kesehatan, Rumah Sakit, Dinas Kesehatan dan Dinas Peternakan Kabupaten/kota atau dinas terkait yang membidangi pembangunan peternakan di kabupaten/kota, disamping juga wartawan lokal. Secara informal, forum ini juga dimanfaatkan oleh Karantina Pertanian dengan BPPV untuk merancang sampling pengujian penyakit menular I.B.R. dan penyakit eksotik paratuberculosis di Kalimantan Timur. Menyangkut “virus H1N1 pada Babi”, BPPV Regional V Banjarbaru telah bekerjasama dengan Dinas Peternakan Propinsi, UPTD Lab. Keswan Samarinda, Dinas Peternakan Kota Balikpapan, Kota Samarinda dan Kabupaten Kutai Barat untuk melakukan pengambilan sampel swab hidung dan serum babi dalam rangka deteksi dini virus influenza A subtipe H1N1.

(Sulaxono Hadi, Vet Epid BPPV Reg V)