Berita

Senin, 16 April 2012 - 13:36:04 WIB
Ayam ASUH Membawa Untung
Diposting oleh : Tim Website Kategori: Umum - Dibaca: 1801 kali

Kegiatan sosialisasi ayam ASUH-nya (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal) kembali digelar Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta bekerjasama dengan FAO (Food & Agriculture Organization/badan pangan dan pertanian dunia) di Rumah Potong Ayam (RPA) Rawa Kepiting, Jakarta Timur itu medio Maret 2012. Salahsatu narasumber yang dihadirkan yaitu Yati mewakili pedagana ayam ASUH.

Dihadapan 50 pemotong dan pedagang ayam di Pasar Keramat Jati dan Pulo Gadung, Yati mengatakan, bahwa produk ayam ASUH yang dijualnya tidak cepat biru dan kalau dimasak tidak ciut. ”Bisa demikian karena setelah ayam dipotong, dicabut bulu, trus langsung direndam dalam air dingin bersuhu sekitar 4o C selama 2 jam. Pori-porinya trus tertutup dan kualitasnya pun terjaga. Dijualnya juga pake styrofoam yang diisi es batu,” terangnya.

Saat ini Yati mampu menjual hingga 3.000 ekor per hari kepada pelanggannya di seputaran Jakarta Barat. Ia memulai bisnisnya ini dengan menjual 5 ekor ayam ASUH (bentuk karkas) yang dibeli dari RPA Kartika Eka Dharma pada 2004. Keunggulan ayam ASUH Yati ini menyebar dari mulut ke mulut antar pedagang sayur, sate, dan warteg. Kini menurut Yati, di seputaran Jakarta Barat, konsumen, dan pedagang sudah banyak yang mengerti akan kualitas ayam ASUH.

Selain Yati, acara ini juga menghadirkan Suparno yang akrab disapa Nojeng—pemotong dan pedagang dari Pulo Gadung. Berbeda dengan Yati, Nojeng membeli ayam dari pangkalan lalu memotongnya secara ASUH di RPA Rawa Kepiting—RPA yang diakui oleh Pemprov DKI Jakarta untuk wilayah Jakarta Timur. Dan Nojeng pun melontarkan pendapat senada dengan Yati bahwa ayam ASUH memiliki kualitas yang jauh lebih baik ketimbang ayam ’hangat’.

Sosialisasi Terus Menerus
Kata Ipih Ruyani yang Kepala Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta, Yati dan Nojeng sengaja dihadirkan untuk membagi pengalaman, sekaligus mengajak para pemotong dan pedagang di Pasar Keramat Jati dan Pulo Gadung untuk berubah. Lanjut Ipih, sosialisasi seperti ini adalah yang ke dua kalinya dan dikhususkan untuk pemotong dan pedagang ayam di bawah 50 ekor.

Ipih berharap agar para pemotong dan pedagang ayam bisa berubah. Dari yang sebelumnya memotong di rumah, bisa memotong di RPA Rawa Kepiting. Atau tinggal membeli saja bila jumlah penjualan masih sedikit. ”Kami memang harus sabar. Sebab tidak mudah untuk mengubah perilaku. Tapi yang pasti kami sampaikan kepada mereka bahwa kami bukan ingin menghilangkan lapangan kerja mereka. Tapi justru ingin membuat mereka lebih maju dan jangan sampai terlindas oleh ritel ayam ASUH milik perusahaan yang kian banyak dan kian dekat ke konsumen,” terangnya.

Melihat Langsung
Tak hanya sosialisasi dalam bentuk ceramah dan berbagi pengalaman, sosialisasi kali ini juga dilengkapi dengan melihat langsung proses pemotongan ayam di RPA Rawa Kepiting yang dipandu oleh Nojeng. Seru Nojeng, ”Program pemerintah ini bukan untuk menyengsarakan kita, tapi untuk memajukan usaha kita.” Buktinya, sambung Nojeng, retribusi per ekor atas penggunaan fasilitas di RPA Rawa Kepiting hanya Rp 75. Ini sudah termasuk penggunaan fasilitas pemotongan, listrik, air, plastik pembungkus, plus kontrol kualitas oleh tim QC (Quality Control). Biaya selain itu, pemotong hanya membeli es balok saja untuk bak perendaman dan boks distribusi.

Kepada para peserta Nojeng lalu menunjukkan bak perendaman dingin yang telah diisi es. ”Ini lah ’formalin’ saya bapak-bapak dan ibu-ibu,” ujarnya. Sarannya, daripada menggunakan formalin yang terbukti membahayakan konsumen, lebih baik sisihkan uang untuk beli es balok. ”Di pemotongan ini, untuk 100 ekor ayam, saya hanya perlu 2 es balok saja. Harga es balok di sini juga murah, hanya Rp 15.000 per balok,” tuturnya.

TROBOS mengamati, sosialisasi yang dikombinasi dengan meninjau langsung fasilitas dan proses pemotongan yang ASUH tampak lebih efektif. Sebab diskusi terasa lebih hidup, aktif dan peserta bisa melihat langsung seperti apa dan bagaimana konsep ASUH itu. Seperti diungkapkan oleh Marlan, penampung ayam di Keramat Jati yang turut serta, sosialisasi seperti ini lebih membuka wawasannya tentang bagaimana ayam yang higienis. Marlan berharap sosialisasi ini terus dilakukan secara rutin agar proses penyadaran lebih cepat.

(Sumber : http://www.trobos.com/show_article.php?rid=29&aid=3336)